Simpang Dodik

Simpang Dodik adalah pembatas. Jalur garis pemisah antara yang (entah) terpinggirkan atau yang (sengaja) meminggirkan diri dari kota Banda Aceh. Dari pusat kota, simpang ini adalah tempat bertemunya dua tokoh pejuang yang nama mereka diadopsi menjadi nama ruas jalan. Simpang Dodik adalah titik ujung Jalan Teuku Umar sekaligus titik pangkal Jalan Cut Nyak Dhien, di mana persandingan ujung-pangkal jalur lurus ini akan mengarahkan orang-orang ke daerah pantai barat-selatan Aceh jika mereka ingin menyusurinya. 

Ini salah satu persimpangan penting. Bagi kota yang terus memperlebar tubuhnya, Simpang Dodik adalah jalur masuk sekaligus jalur keluar. Maka traffic light adalah perangkat wajib yang harus dimilikinya. Maka dari fungsi perangkat ini pulalah dapat kita periksa pola pikir orang-orang yang masuk-keluar ke dan dari Kota Banda Aceh. Kota yang menurut kabar telah lebih setengah lusin membawa Piala Adipura di ajang lomba bersih-bersih tingkat nasional.

Jika ingin menilik pola pikir orang-orang yang dimaksud berdasarkan pemungsian traffic light yang dimaksud, sekali waktu, sempatkanlah berhenti barang 5 atau 7 menit di pinggir jalan Simpang Dodik. Traffic light, tentu saja akan menyala di empat penjuru arah angin jika listrik tak padam dengan tiba-tiba. Kau bisa melihat, betapa bosannya orang-orang menunggu waktu jeda sekitar 60 detik ketika lampu merah menyala. Bisa kau lihat pula, di antara orang-orang bosan itu, banyak di antaranya menggunakan bebal pikiran untuk menerobos lampu merah dengan semena-mena. Tapi aksi bangai (dungu) ini tentu saja bebas dilakukan dengan syarat Polisi Lalu Lintas (Polantas) sedang tak ada.

Persimpangan yang dijaga ketat oleh Polantas adalah persimpangan yang belum  bisa dikatakan dewasa. Maka untuk menampakkan kedewasaannya, Polantas tak saban hari ada di sini, kecuali hanya sedia pada pagi hari sekitar pukul 7.00 WIB sampai 8.15 WIB setiap hari kerja kantoran saja. Hari libur tak ada. Tapi bagi orang bijak, menyalahkan Polantas atas kecurangan pengendara di traffic light tentu saja salah adanya. Sebab yang salah di sini tentu saja si pengendara yang tak sabar berhenti sejenak walau dalam hitungan semenit saja.

Simpang Dodik tidak selamanya padat. Ini simpang yang lengang saat terik matahari siang (saat guyur hujan juga), tapi sebaliknya ketika pagi hari kerja kantoran dan minggu maghrib akhir pekan. Pada dua waktu ini, Pusat Kota Banda Aceh jika ditilik dari Simpang Dodik tak ubahnya lampu terang benderang bagi laron-laron jalanan.[]

Tags:

Share:

0 komentar

Search This Blog