Di Jalanan Banda Aceh
Tapi di antara semua ruang publik, jalanan di sekujur tubuh Banda Aceh adalah satu-satunya tempat terbebas untuk unjuk segala ekspresi. Di sini kau bebas menunjukkan tabiat dasar yang sudah kadung kau bawa sejak lahir. Jika punya tabiat tak sabaran, kau gampang terobos lampu merah sekehendak hati. Bagi yang bawaan lahirnya rada-rada tuli, bisa juga mengekspresikan diri dengan memodifikasi knalpot kendaraan agar volumenya dua-tiga-empat kali lebih besar dari yang keluaran pabrik. Lalu kau bebas menggebernya kuat-kuat biar mampus orang yang sedang sakit gigi.
Oya. Jangan heran jika sekali waktu kau dapati sepotong tisu basah atau bungkusan coklat atau kaleng minuman atau kulit jeruk, rambutan, salak, duku (kulit durian dijamin tidak) keluar begitu saja dari kaca mobil mewah yang sedang melaju cepat itu. Hindari juga untuk tidak melongo takjub jika kau dapati kendaraan di depan tiba-tiba belok kanan sementara lampu sign yang hidup sebelah kiri. Kalau sampai melongo, alamat rumah sakitlah tujuan kau nanti.
Nah, jika tabiat pamer itu sudah memuncak di ubun-ubun, tak sanggup kau tahan lagi. Kau tinggal pilih mau masuk di komplotan tukang pamer mana. Di sini banyak komplotan tukang pamer yang tiap jumat dan sabtu malam berkonvoi riuh menyusuri jalanan Banda Aceh. Jika sudah berkomplot, yakinlah, sifat pamer kau itu akan jauh lebih buas tenimbang dulu-dulu. Hanya saja, untuk masuk dalam komplotan ini kau mesti punya kendaraan yang benar-benar layak.
Lalu bagaimana dengan yang punya kebiasaan ngerumpi? Itu. Lihat sendiri. Dua gadis yang lagi tunggangi sepeda motor sendiri-sendiri tapi jalannya berdampingan. Lihat, mereka santai saja jalan di jalur kanan sambil haha-hihi. Paling, jika mau kupingi mereka ngerumpi apa, kau akan dengar salah seorang gadis itu tanya ke temannya, "Kamu pakai pembalut merk apa?"[]
Tags:
Aceh

0 komentar